Ia juga meluruskan sejumlah kekhawatiran masyarakat, seperti isu pencemaran air tanah, emisi gas, dan risiko gempa. Menurutnya, Indonesia menggunakan sistem hydrothermal, yakni panas dan air tersedia alami di bawah permukaan sehingga proses pengembangannya lebih aman dan terkontrol.
Senada, ahli geothermal dari Universitas Gadjah Mada, Pri Utami, menegaskan bahwa geothermal bukan kegiatan pertambangan karena tidak mengeruk sumber daya terbatas. Manifestasi seperti uap, lumpur panas, dan bau belerang merupakan gejala alami aktivitas bumi yang dapat dikelola dengan baik agar tetap aman.
“Manifestasi seperti uap, lumpur panas, atau bau belerang adalah gejala alami aktivitas bawah permukaan bumi dan perlu dikelola dengan baik agar tetap aman,” jelasnya.
Berdasarkan data PLN, kapasitas geothermal yang telah dimanfaatkan di Flores mencapai 18 MW dari total potensi sekitar 377 MW. Pemerintah pusat bahkan menetapkan Flores sebagai ikon “Flores Geothermal Island” melalui keputusan Menteri ESDM tahun 2017.
Saat ini kapasitas terpasang sistem kelistrikan Flores sebesar 114 MW dengan beban puncak 99,14 MW. Namun, sekitar 85 persen energinya masih bersumber dari fosil, dengan impor 108.600 ton batu bara dan 92,6 juta liter solar B35 setiap tahun. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan bauran energi terbarukan.



Subscribe to my channel










