Sejarah mencatat, agama Katolik mulai hadir di Manggarai sejak tahun 1912 dan kini dianut oleh mayoritas penduduk.
Namun, perjalanan panjang tersebut tidak menutup ruang bagi agama lain untuk berkembang. Islam, Protestan, Hindu, dan Buddha hadir dan berinteraksi secara setara dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Di Manggarai, agama tidak bertentangan dengan adat. Agama menjadi roh spiritual, sementara adat istiadat menjadi bingkai sosial yang menyatukan masyarakat dalam setiap siklus kehidupan,” ujar Hery Nabit.
Harmoni itu tidak hanya menjadi wacana, tetapi tampak nyata dalam praktik keseharian.
Remaja masjid ikut menjaga keamanan perayaan Misa Paskah, sementara pemuda Katolik bergotong royong mengamankan perayaan Idulfitri.
Dalam berbagai festival budaya seperti Festival Golo Curu, sekat-sekat perbedaan melebur dalam kegembiraan bersama.
Dialog lintas agama yang diinisiasi FKUB Manggarai kali ini mengusung tema “Ekologi-Iman dan Persaudaraan Semesta.”
Tema tersebut mengajak seluruh umat beragama untuk memperluas makna persaudaraan, tidak hanya antar manusia, tetapi juga terhadap alam semesta.
Menurut Bupati Hery Nabit, persaudaraan sejati tidak akan utuh tanpa kepedulian terhadap lingkungan.


Subscribe to my channel










