Oleh: Teresa Aprila S. Kulas, Mariella P. Adita Pantur, Reinardus C. Array Mooy
Info1news.com- Berbicara soal kesehatan, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang bekerja merusak benteng pertahanan tubuh kita sendiri.
Jika tidak ditangani, virus ini akan berkembang menjadi AIDS, sebuah kondisi di mana sistem imun sudah dapat melemah sehingga penyakit apapun mudah masuk (Permatasari et.al ., 2022; Herawati, 2024).
Masalahnya sudah muncul sejak tahun 1980-an hingga sekarang, ancaman ini justru semakin dekat dengan anak muda.
Di Indonesia, kenyataan pahitnya adalah hampir seluruh dari kasus HIV justru ditemukan pada remaja dan mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa kelompok kita sebenarnya sedang berada dalam zona merah yang butuh perhatian serius.
Masa kuliah seringkali disebut sebagai ‘fase emas’ untuk mencari jati diri. Namun, dibalik kebebasan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar yang seringkali belum siap kita pikul sepenuhnya.
Secara psikis, mahasiswa masih berada dalam masa transisi dari pubertas menuju dewasa, yang tentu saja diikuti dengan perkembangan sisi seksualnya.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat kita, para mahasiswa, menjadi sangat rawan terjebak dalam perilaku beresiko yang bisa berujung pada penularan HIV/ AIDS
Data menunjukan bahwa kasus HIV/AIDS di Provinsi Nusa Tenggara Timur terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2011 tercatat 1.405 kasus HIV/AIDS, kemudian jumlah penderita meningkat hingga 2015 (KPA NTT,2015).
Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai mencatat setidaknya 342 warga menderita HIV terhitung sejak 2011 hingga September 2025, dimana Sebagian besar penderitanya ibu rumah tangga, namus mencakup usia produktiv/mahasiswa (DINKES Kab. Manggarai,2025).
Akar dari masalah ini adalah perilaku seks bebas, yaitu hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan dan tanpa penggunaan alat kontrasepsi.



Subscribe to my channel










