Penelitian menunjukan bahwa hubungan heteroseksual tanpa pengaman menyebab sekitar 56% dari total factor resiko HIV.
Selain itu, rendahnya pengetahuan mahasiswa mengenai HIV dan cara penularannya juga memperparah situasi ( Layinatunnisa et al, 2022, Safitri et al, 2022).
Hal yang dulunya diangap norma, sekarang disebut dengan istilah keren Friends with benefit (Hubungan seksual tanpa adanya ikatan yang jelas).
Adapun beberapa hal sosiologis mendalam yang menjelaskan mengapa mahasiswa menjadi kelompok paling rentan.
Pertama, adalah faktor pudarnya pengawasan. Banyak mahasiswa menjalani hidup sebagai perantau ( anak kost ), jauh dari pengawasan langsung orang tua untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.
Kebebasan tanpa batas inilah yang menjadi titik awal, jika tidak dibarengi dengan Kompas moral dan literasi resiko yang kuat, menjadi celah lebar bagi masuknya pengaruh lingkungan yang rusak.
kedua, aksesibilitas teknologi dan Krisis kepercayaan. Kehadiran aplikasi kencan daring (datting apps) memudahkan pertemuan instan yang seringkali berujung pada aktivitas seksual tanpa mengetahui latar belakang kesehatan pasangan sedikitpun.
Ketiga, minimnya literasi Kesehatan reproduksi yang jujur. Meskipun mereka cerdas secara akademik, banyak mahasiswa yang masih memiliki pemahaman yang sangat dangkal tentang Kesehatan seksual.
Edukasi yang mereka terima selama ini seringkali hanya bersifat biologis dasar atau ancaman moral semata, tanpa menyentuh aspek manajemen resiko yang praktis, efektivitas alat proteksi, hingga pentingnya melakukan tes Kesehatan bagi mahasiswa secara berkala sebagai bentuk tanggung jawab diri.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa remaja dan mahasiswa yang hidup dengan HIV tidak hanya mengalami Kesehatan fisik, tetapi juga menghadapi dampak psikososial yang cukup besar.
Menurut Sembiring dan Makualaina (2024) dan Srinathania dan Karlina (2021), individu sering mengalami kecemasan, depresi, dan rasa bersalah, bahkan timbul keinginan untuk melakukan bunuh diri akibat tekanan sosial dan kurangnya dukungan dari lingkungan.
Adanya stigma sosial terhadap penderita HIV masih sangat kuat dan menghakimi, mahasiswa yang merasa pernah melakukan perilaku beresiko seperti ini cendrung menutup diri.



Subscribe to my channel










