Mereka takut melakukan Voluntary Conuseling and Testing (VCT) karena khawatir akan penghakiman dari lingkungan atau kerahasiaan data mereka akan di bocor.
Ketakutan stigma inilah yang justru mempercepat penularan HIV. Seseorang yang tidak mengetahui status kesehatannya akan terus merasa menularnya virus tersebut kepada pasangan-pasangan berikutnya dalam sebuah lingkaran setan yang justru sulit diputuskan.
Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi tiket menuju kesejahteraan masa depan justru bisa menjadi berubah, menjadi akhir dari masa produktif jika kesehatan fisik sudah tergadaikan oleh virus hingga kini belum ditemukan obatnya.
Mengatasi masalah ini, ada beberapa faktor yang ikut berpartisipasi untuk mencegah terjadinya HIV pada mahasiswa.
Pertama, kampus dan Dinas kesehatan harus “Turun Tangan”. Pihak kampus tidak bisa diam saja. Perlu adanya kerjasama nyata dengan Dinas kesehatan untuk rutin masuk ke kampus dan memberikan edukasi kepada mahasiswa.
Masalahnya banyak mahasiswa yang sebenarnya kurang tahu bahaya pergaulan bebas yang berujung pada seks diluar nikah.
Bukan cuma soal moral tapi edit kasih soal resiko penyakit menular dan pentingnya penggunaan alat pelindung (kontrasepsi )yang masih sangat minim.
Jadi kampus harusnya di tempat yang terbuka untuk diskusi kesehatan reproduksi, bukan cuma tempat belajar teori saja.
Kedua, orang tua jangan “lepas tangan”. Walaupun mahasiswa sudah merasa dewasa dan mungkin jauh dari rumah (anak kost/perantau), pengawasan orang tua itu tetap nomor satu.
Kebebasan di perantauan seringkali bikin kita kaget dan salah pergaulan kalau tidak punya benteng yang kuat dari rumah.
Orang tua harus tetap memantau dan rutin berkomunikasi, bukan untuk mengekang, tapi untuk jadi teman curhat yang asik dan nyaman bagi anak.
Dengan begitu, kalau ada masalah atau tekanan dari lingkungan, mahasiswa tidak lari ke pelarian yang salah.***



Subscribe to my channel










