Dalam pelaksanaannya, tim melakukan seleksi generasi pertama (G1) dari total 800 titik tanam di perairan Lifuleo. Dari jumlah tersebut, sekitar 150 ikat rumput laut dipilih kembali berdasarkan hasil pertumbuhan terbaik untuk dijadikan bahan generasi berikutnya. Setelah 30 hari masa tanam, hasil panen generasi pertama menunjukkan peningkatan signifikan, dengan bobot rata-rata di atas 100 gram per ikat.
“Metode ini akan berlanjut hingga Februari 2026, dengan siklus seleksi selama tiga generasi. Kami optimistis dalam 30 hari ke depan bobot rumput laut akan meningkat lebih besar lagi. Dari situ, akan terbentuk kebun bibit unggul yang bisa dimanfaatkan para petani Lifuleo dan sekitarnya,” lanjut Rafiqah.
Hasil penelitian dan pengamatan lapangan menunjukkan, rumput laut lokal dari perairan sekitar PLTU Timor 1 memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kondisi arus, salinitas, dan pencahayaan laut di Lifuleo dinilai sangat mendukung pembentukan strain rumput laut unggul yang tahan penyakit sekaligus memiliki daya tumbuh tinggi.
Program Selvarula ini juga menjadi wadah transfer pengetahuan. Para petani dilatih memahami prinsip dasar pemuliaan, teknik seleksi, pencatatan data pertumbuhan, hingga metode panen yang efisien. Dengan demikian, masyarakat pesisir dapat secara mandiri melakukan peremajaan bibit di masa depan.


Subscribe to my channel










