Manggarai, Info1news.com- Pemerintah Kabupaten Manggarai mulai mempertimbangkan langkah tegas untuk membatasi penggunaan telepon genggam bagi siswa di sekolah. Wacana ini muncul setelah aparat menemukan perubahan pola perekrutan oleh kelompok radikal dan jaringan teror. Jika sebelumnya indoktrinasi dilakukan melalui pertemuan langsung atau jaringan tertutup, kini ruang digital, terutama media sosial dan game online, menjadi pintu masuk baru untuk menargetkan anak-anak dan remaja.
Temuan ini disampaikan oleh Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 Anti Teror Polri dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai pada Selasa, (17/03/2026), pukul 15.00 WITA, di ruang kerja Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai.
Rapat dibuka oleh Sekretaris Daerah Manggarai, Lambertus Paput, S.Sos., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif Densus 88.
“Terima kasih atas kehadiran tim dari Satgaswil NTT Densus 88 Anti Teror Polri,” kata Lambertus Paput membuka rapat.
Menurutnya, pembahasan ini krusial karena Manggarai menyandang status Kabupaten Layak Anak, yang menuntut kebijakan berpihak pada perlindungan anak, termasuk menghadapi ancaman digital.
“Pertemuan hari ini diinisiasi oleh Densus. Salah satu alasan kenapa ini penting karena Manggarai merupakan kabupaten layak anak. Kita harus punya konsep yang sama tentang bagaimana mengatasi persoalan anak,” ujarnya.
Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah pejabat, antara lain Asisten III Setda, Kepala Dinas P3A, Kepala Dinas DP&KB, Kepala Diskominfo, Kabag Kerja Sama, perwakilan UPTD Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Kabid Pemuda dan Olahraga Disdikpora, Kabid Ideologi Kesbangpol, serta Kabid P2P Dinas Kesehatan.
Paparan Densus 88: Modus Baru dan Data Mengkhawatirkan.
Iptu Silvester Guntur, SH., MM., dari Tim Cegah Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri menegaskan bahwa kelompok ekstrem telah beradaptasi dengan teknologi.
“Salah satu konsen kami adalah bagaimana melindungi anak-anak kita dari paham-paham IRET,” ungkapnya.
Kelompok radikal memanfaatkan media sosial (Instagram, Telegram, WhatsApp, TikTok, Twitter/X, Facebook, SnackVideo) dan game online sebagai ruang interaksi awal. Percakapan dalam game online dinilai lebih sulit diawasi dan sering menjadi awal pendekatan halus.
Data nasional menunjukkan 110 anak teridentifikasi terlibat doktrinasi ideologi radikal via game online, sebagian besar aktif memainkan game bertema kekerasan seperti Roblox, GTA, PUBG, Free Fire, dan GoreBox. Dari jumlah tersebut, 72 anak terpapar ideologi kekerasan melalui grup TCC (True Crime Community).




Subscribe to my channel






