Daerah

Ditinggal Ayah, Kehilangan Ibu, Cinta Kini Menggantungkan Harapan pada Nenek Lansia

×

Ditinggal Ayah, Kehilangan Ibu, Cinta Kini Menggantungkan Harapan pada Nenek Lansia

Sebarkan artikel ini

Hidup dalam Keterbatasan, Tetap Berprestasi di Sekolah

Meski hidup dalam serba kekurangan, semangat belajar Cinta tidak pernah padam. Saat masih bersekolah di SDI Compang Ngeles, ia selalu meraih peringkat pertama di kelas. Kini, Cinta telah duduk di Kelas I SMP Negeri 1 Elar.

Setiap pagi, ia berjalan kaki cukup jauh menuju sekolah. Dengan pakaian sederhana, sandal yang sudah tidak layak, dan tas lusuh berisi buku-buku pelajaran, Cinta tetap menempuh perjalanan itu tanpa mengeluh.

“Cinta anak yang sangat rajin, sopan, dan selalu aktif di sekolah. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, ia tidak pernah absen berprestasi,” ujar salah satu mantan gurunya.

Nenek Lansia Menjadi Tulang Punggung Keluarga 

Beban hidup kini sepenuhnya berada di pundak Nenek Katarina Labe. Di usia senjanya, ia masih harus bekerja serabutan di ladang demi memenuhi kebutuhan makan, pakaian, serta biaya sekolah cucunya.

Penghasilannya tidak menentu. Tak jarang, mereka harus menunggu bantuan dari keluarga, kerabat, atau warga sekitar hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Sebagai kepala keluarga, saya harus menanggung semuanya. Makan, kebutuhan sekolah Cinta, buku, dan seragam. Tapi apa daya, penghasilan dari kerja serabutan tidak cukup untuk kami berdua,” ujar Katarina dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengaku bahwa dirinya terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), sementara Cinta menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun bantuan tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan pendidikan mereka.

“Kami memang menerima PKH dan PIP, tetapi jumlahnya belum cukup. Rumah kami bocor di mana-mana. Saat hujan, kami basah dan kedinginan. Hidup kami sangat sederhana, bahkan sulit dikatakan layak,” katanya sambil menahan tangis.

Sementara itu, paman kandung Cinta yang merupakan anak laki-laki Katarina kini masih berada di perantauan sehingga belum dapat membantu secara maksimal.

Bermimpi Menjadi Orang Sukses 

Meski tak pernah merasakan hangatnya pelukan orang tua, Cinta tidak pernah kehilangan harapan. Sepulang sekolah, ia membantu neneknya mengerjakan pekerjaan rumah dan berbagai pekerjaan ringan lainnya.

Di balik sepatu yang robek, pakaian yang lusuh, dan perjalanan kaki setiap hari menuju sekolah, Cinta menyimpan mimpi yang sederhana namun begitu besar.

“Saya ingin tetap bersekolah, kelak ingin menjadi orang yang sukses. Saya ingin membalas kasih sayang Nenek,” tutur Cinta dengan suara lirih.

Harapan Cinta dan Nenek Katarina sebenarnya sangat sederhana. Mereka hanya ingin memiliki tempat tinggal yang lebih layak, kebutuhan hidup yang cukup, dan kesempatan bagi Cinta untuk terus melanjutkan pendidikan hingga meraih cita-citanya.

</p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *