NGADA, Info1news- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus mendorong pemanfaatan potensi panas bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui pengembangan kawasan geowisata Mataloko di Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.
Destinasi wisata edukasi berbasis manifestasi panas bumi tersebut kini memasuki tahap akhir pembangunan dan ditargetkan rampung pada awal 2027.
Kehadiran geowisata ini diharapkan dapat memperluas manfaat panas bumi, tidak hanya untuk penyediaan energi listrik, tetapi juga untuk pengembangan pariwisata dan peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
Pengembangan geowisata Mataloko menjadi salah satu upaya PLN dalam mengoptimalkan potensi panas bumi melalui kegiatan edukasi, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.
Kawasan ini diharapkan menjadi destinasi yang memperkenalkan fenomena alam panas bumi kepada pengunjung sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Bagi masyarakat Desa Adat Wogo, pengembangan kawasan tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan potensi wisata lokal. Keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi wisata tersebut ke depan.
Program pengembangan geowisata Mataloko juga merupakan tindak lanjut rekomendasi Satuan Tugas (Satgas) Geotermal yang dibentuk Pemerintah Provinsi NTT pada 2025.
Rekomendasi tersebut mendorong pengelolaan kawasan manifestasi panas bumi Mataloko dengan memperhatikan aspek lingkungan, keselamatan, serta potensi pengembangan pariwisata yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pengembangan wisata berbasis panas bumi bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah BUMN telah mengembangkan konsep serupa, di antaranya Pertamina Geothermal Energy melalui Desa Wisata Geothermal Kamojang di Jawa Barat dan Geowisata Kopi Ulubelu di Lampung, serta PT Geo Dipa Energi melalui wisata edukasi panas bumi di kawasan Dieng, Jawa Tengah.
Berbagai inisiatif tersebut menjadi referensi dalam mengembangkan potensi wisata panas bumi yang memadukan edukasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Di Mataloko, pengembangan kawasan geowisata turut didukung melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli.
Dukungan tersebut meliputi pembangunan dan perbaikan sejumlah fasilitas, pelatihan bagi masyarakat, serta penguatan kelembagaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan pengelolaan kawasan wisata agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Tokoh muda Kampung Wogo, Hans Bhagi, menyambut positif pengembangan geowisata Mataloko. Ia berharap kehadiran destinasi tersebut dapat meningkatkan daya tarik wisata Desa Wogo sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama generasi muda.
“Kami senang dengan adanya pembangunan geowisata ini dan berharap programnya dapat berjalan sukses. Kehadiran geowisata tentu menjadi potensi baru bagi Desa Wogo. Harapan kami, anak-anak muda di sini nantinya bisa ikut terlibat dan mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata yang dikembangkan,” ujar Hans.
Ia juga mengapresiasi dukungan PLN melalui program PLN Peduli, mulai dari pembentukan Pokdarwis, pembangunan dan perbaikan fasilitas, hingga pelatihan bagi masyarakat.
Menurut Hans, dukungan tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat dalam mempersiapkan diri untuk terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan geowisata Mataloko.


Subscribe to my channel










