Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam mendukung kegiatan pembinaan anak melalui olahraga yang dilakukan secara konsisten dan berkualitas.
Menurutnya, kompetisi sepak bola anak perempuan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan olahraga semata, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk menyampaikan berbagai isu penting terkait anak perempuan, seperti pencegahan kekerasan seksual, perundungan (bullying), kepemimpinan anak perempuan, kesehatan mental, hingga perlindungan anak.
“Melalui kegiatan yang menyenangkan seperti pertandingan dan kompetisi, pesan-pesan penting dapat disampaikan secara sederhana namun efektif. Sosialisasi yang dilakukan secara berulang akan membantu membentuk kesadaran dan karakter anak-anak sejak dini,” ujar Bupati Manggarai dalam sambutannya.
Pemerintah daerah meyakini pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia Manggarai, khususnya generasi muda yang sehat secara fisik, kuat secara mental, dan memiliki karakter positif.
Pemerintah juga berharap kegiatan ini dapat menjadi titik awal bagi terselenggaranya kompetisi sepak bola anak perempuan secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.
Sementara itu, Coordinator Project Manggarai, Dendy Manu, menjelaskan bahwa proyek Girls Football 3.0 tidak hanya berfokus pada sepak bola, tetapi juga menghadirkan edukasi bagi anak-anak, orang tua, guru, pelatih, dan asosiasi sepak bola terkait kesetaraan gender, dukungan terhadap kepemimpinan anak perempuan, serta perlindungan anak.
Plan Indonesia, lanjutnya, sangat mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, termasuk sekolah, pemerintah daerah, ASKAB, PSSI, dan seluruh mitra yang terlibat.
“Kami berharap kompetisi ini menjadi ruang membangun solidaritas, meningkatkan kemampuan pemain, sekaligus menjadi media kampanye kesetaraan gender bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Project Manager Yayasan Rumah Solusi BETA Indonesia (RSBI), Renya Kabu Mau, juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai atas dukungan dan keterbukaan yang memungkinkan kegiatan ini terlaksana dengan baik.
Ia menjelaskan bahwa RSBI merupakan organisasi yang fokus pada isu pendidikan, kesetaraan gender, dan perubahan iklim, serta telah bermitra dengan Plan Indonesia dalam pelaksanaan Girls Football yang kini memasuki fase ketiga.
“Melalui sepak bola, kami mengadvokasi kesetaraan gender, perlindungan anak, dan pendekatan anti-diskriminasi. Hari ini kami ingin menunjukkan bahwa anak perempuan juga berani, kuat, dan tidak takut dengan bola,” ujarnya.
Sejak diluncurkan pada Juli 2025 di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Girls Football 3.0 telah melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi program, pembentukan 19 tim sepak bola dan 95 pendidik sebaya di sekolah, pelatihan pelatih dan guru, hingga pelaksanaan youth camp.





Subscribe to my channel










