Daerah

Bupati Hery Nabit: Keputusan Status Darurat Gempa Harus Sesuai Kondisi Manggarai

×

Bupati Hery Nabit: Keputusan Status Darurat Gempa Harus Sesuai Kondisi Manggarai

Sebarkan artikel ini

Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai mendengarkan paparan dan masukan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), DPRD, serta sejumlah klaster penanganan bencana.

Klaster yang menjadi perhatian meliputi bidang sosial, perumahan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Seluruh masukan tersebut menjadi bagian penting dalam mengevaluasi kebutuhan penanganan darurat sekaligus menentukan langkah lanjutan yang tepat bagi masyarakat terdampak.

“Setelah seluruh informasi, data, dan masukan tersebut kita dengarkan, barulah kita bersama-sama mengambil keputusan mengenai langkah terbaik yang harus dilakukan,” jelasnya.

Dalam rapat evaluasi tersebut, Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Ruteng, Dinda Selviany Surya Labuh, memaparkan perkembangan aktivitas gempa susulan setelah gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.

Berdasarkan data pemantauan yang dipaparkan, aktivitas gempa susulan menunjukkan kecenderungan peluruhan. Kondisi ini ditandai dengan semakin berkurangnya frekuensi kejadian gempa dan semakin panjangnya jarak waktu antara satu kejadian dengan kejadian berikutnya.

Meski demikian, aktivitas kegempaan masih berlangsung sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

BMKG mencatat gempa bermagnitudo di atas 5 sebanyak 33 kejadian atau sekitar 0,18 persen dari keseluruhan kejadian yang tercatat.

Sementara itu, gempa bermagnitudo 4,0 hingga 5,0 tercatat sekitar 568 kejadian atau sekitar 3 persen. Gempa dalam rentang tersebut masih dapat dirasakan di wilayah yang cukup luas dan berpotensi menyebabkan kerusakan ringan, terutama pada bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan.

Untuk gempa bermagnitudo 3,0 hingga 4,0, tercatat sekitar 3.641 kejadian atau 19,5 persen. Sebagian gempa dalam kategori ini masih dapat dirasakan secara lokal, khususnya oleh masyarakat di wilayah pantai utara.

Adapun gempa bermagnitudo di bawah 3,0 tercatat sekitar 14.608 kejadian atau 72,8 persen. Sebagian besar gempa dalam kelompok tersebut tidak dirasakan masyarakat dan hanya terdeteksi melalui peralatan pemantauan kegempaan.

Data tersebut menunjukkan bahwa rangkaian gempa susulan Flores telah memasuki fase peluruhan yang konsisten, dengan kecenderungan penurunan jumlah kejadian secara harian maupun mingguan.

</p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *