Namun, peluruhan tersebut tidak berarti bahwa gempa susulan akan segera berakhir sepenuhnya.
“Peluruhan gempa merupakan kecenderungan statistik, bukan hitungan mundur menuju hari tanpa gempa,” tutur Dinda.
Ia menjelaskan, aktivitas gempa dengan magnitudo tertentu yang masih dapat dirasakan masyarakat diperkirakan bisa berlangsung sekitar enam hingga tujuh minggu sejak gempa utama, dengan kecenderungan frekuensi yang terus menurun.
BMKG juga terus melakukan pemantauan aktivitas gempa susulan secara intensif selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.
Apabila terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas kegempaan, informasi akan segera diperbarui dan disampaikan kepada pihak-pihak terkait.
Di tengah proses pemulihan pascagempa, masyarakat Kabupaten Manggarai diimbau tetap tenang dan tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.
Masyarakat juga diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau isu yang belum jelas kebenarannya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Perkembangan aktivitas gempa perlu disikapi berdasarkan informasi resmi dari BMKG serta arahan pemerintah dan instansi terkait.
Bagi masyarakat yang bangunannya mengalami kerusakan akibat gempa, kewaspadaan tetap diperlukan. Bangunan yang belum dinyatakan aman sebaiknya tidak digunakan sebelum dilakukan pemeriksaan oleh pihak berwenang atau tenaga teknis yang kompeten.
Pemerintah Kabupaten Manggarai sendiri terus mengevaluasi kondisi di lapangan sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.
Bupati Hery Nabit menegaskan, keputusan mengenai kelanjutan status tanggap darurat harus mengutamakan keselamatan masyarakat, didukung data yang rasional, serta mempertimbangkan kebutuhan pemulihan di Kabupaten Manggarai.


Subscribe to my channel










