Pada pagi hari, dilaksanakan prosesi kepok untuk menyambut anak wina dan ase kae, termasuk perwakilan PLN. Rangkaian adat kemudian dilanjutkan dengan tudak ela di rumah gendang dan kembali melibatkan anak wina serta PLN sebagai ase kae dalam prosesi wali urat dia. Seluruh rangkaian kemudian dilanjutkan dengan misa syukur bersama masyarakat di halaman Natas Wewo.
Fernando Andreas Hasibuan menyampaikan terima kasih atas penerimaan masyarakat Gendang Wewo dan kesempatan yang diberikan kepada PLN untuk mengikuti rangkaian adat bersama masyarakat sebagai bagian dari ase kae.
“Bagi kami, dapat hadir dan mengikuti rangkaian Penti bersama masyarakat Gendang Wewo merupakan sebuah kehormatan. Kami berterima kasih karena PLN diterima sebagai ase kae dan diberikan ruang untuk bersama-sama mengikuti tradisi yang dijaga oleh masyarakat secara turun-temurun,” ujar Fernando.
General Manager PLN UIP Nusra, RDW Manurung, mengatakan bahwa kehadiran PLN dalam Penti Weki Peso Beo merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan baik yang telah terbangun dengan masyarakat di sekitar pengembangan PLTP Ulumbu.
“PLN menghormati adat, tradisi, dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Hubungan yang terbangun dengan masyarakat Gendang Wewo sebagai ase kae tentu menjadi amanah bagi kami untuk terus menjaga komunikasi, saling menghormati, dan membangun hubungan yang baik dalam setiap tahapan pengembangan PLTP Ulumbu,” ujar RDW.
Menurut RDW, pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan perlu berjalan beriringan dengan keterlibatan masyarakat dan penghormatan terhadap nilai sosial budaya setempat. Hal tersebut menjadi bagian dari pendekatan PLN dalam pembangunan PLTP Ulumbu Unit 5–6.
PLTP Ulumbu Unit 5–6 berkapasitas 2×20 MW merupakan bagian dari pengembangan energi panas bumi di Pulau Flores. Dalam proses pengembangannya, PLN terus membangun komunikasi dan keterlibatan dengan masyarakat, termasuk masyarakat adat di wilayah sekitar proyek.


Subscribe to my channel










