Daerah

Paulus Jeramun Gaungkan Pesan “Sekolah Aman, Belajar Nyaman” Pascagempa Manggarai

×

Paulus Jeramun Gaungkan Pesan “Sekolah Aman, Belajar Nyaman” Pascagempa Manggarai

Sebarkan artikel ini

MANGGARAI, Info1news- Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Manggarai, Paulus Jeramun, M.Si., menggaungkan pesan “Sekolah Aman, Belajar Nyaman” melalui edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan gempa bumi bagi siswa-siswi SD Inpres Wase Wengke, Desa Beo Rahong, Kecamatan Ruteng, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan pascagempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Selain membantu membangun kembali rasa aman bagi anak-anak, edukasi ini bertujuan menanamkan pengetahuan tentang cara melindungi diri ketika gempa bumi terjadi.

Mengusung tema “Menjadi Pasukan Siaga Gempa! Sekolah Aman, Belajar Nyaman di Manggarai”, kegiatan tersebut dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, tanya jawab, praktik perlindungan diri, dan simulasi evakuasi.

Di hadapan para siswa, Paulus menegaskan bahwa gempa bumi merupakan fenomena alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, anak-anak perlu memiliki pengetahuan dan kesiapan agar mampu menghadapi situasi tersebut dengan tenang.

“Gempa itu alami. Kita tidak perlu takut, tetapi kita harus siap. Jadilah Pasukan Siaga Gempa!” pesan Paulus kepada para siswa.

Paulus menyampaikan edukasi dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak. Para siswa diajak mengenali tempat-tempat yang relatif aman di lingkungan sekolah maupun rumah, serta memahami pentingnya mengetahui jalur evakuasi ketika terjadi keadaan darurat.

Salah satu materi utama yang diberikan adalah prinsip penyelamatan diri saat gempa, yakni merunduk, berlindung, dan bertahan atau Drop, Cover, and Hold On.

Melalui prinsip tersebut, siswa diajarkan untuk segera merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala dan leher, serta berpegangan pada kaki meja hingga guncangan berhenti.

Pengetahuan ini diharapkan dapat membantu anak-anak mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi gempa, baik saat berada di ruang kelas maupun di tempat lain.

Untuk memastikan materi dapat dipahami, Paulus sesekali memberikan pertanyaan kepada para siswa. Respons mereka beragam. Ada yang antusias mengangkat tangan untuk menjawab, ada yang menyampaikan jawaban dengan lantang, dan ada pula yang memilih menyimak sebelum ikut berpartisipasi.

Beberapa siswa juga menghubungkan materi dengan pengalaman mereka ketika merasakan gempa. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman mengenai tindakan yang perlu dilakukan ketika guncangan terjadi.

Suasana pembelajaran berlangsung interaktif. Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diberi ruang untuk bertanya, menjawab, dan mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan diri.

Setelah menerima penjelasan, para siswa diajak mengikuti simulasi sederhana menghadapi gempa bumi. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk permainan agar mudah dipahami dan diingat.

</p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *