Simulasi diawali dengan aba-aba, “Gempa datang! Jadi Tupai Siaga!”
Mendengar instruksi tersebut, siswa diminta segera merunduk, masuk ke bawah meja yang kokoh, memegang kaki meja, serta melindungi kepala dan leher.
Setelah guncangan dianggap mereda, pendamping memberikan aba-aba, “Gempa mereda! Pasukan Semut, keluar!”
Para siswa kemudian keluar dari bawah meja secara tertib dan bersiap menuju titik evakuasi. Mereka juga diingatkan agar tidak berlari, tidak saling mendorong, serta mengikuti arahan guru atau pendamping selama proses evakuasi.
Melalui simulasi tersebut, anak-anak belajar bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui teori. Pengetahuan itu perlu dipraktikkan agar mereka lebih terbiasa melakukan tindakan yang benar ketika menghadapi keadaan darurat.
Tim Diskominfo memberikan apresiasi kepada para siswa yang mengikuti simulasi dengan baik. Tepuk tangan dan suasana ceria mengiringi berakhirnya kegiatan.
Pendekatan belajar sambil bermain membuat materi mitigasi terasa lebih dekat dengan dunia anak-anak. Pada saat yang sama, mereka memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya ketenangan, kedisiplinan, dan kerja sama ketika menghadapi bencana.
Pesan “Sekolah Aman, Belajar Nyaman” menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascagempa di Kabupaten Manggarai.
Sekolah bukan hanya tempat anak-anak memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga lingkungan untuk membangun rasa aman, mengembangkan keberanian, dan mempelajari keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui edukasi kebencanaan, anak-anak diharapkan dapat kembali menjalani kegiatan belajar dengan lebih percaya diri sekaligus memahami cara melindungi diri dan orang lain.
Paulus juga mendorong para siswa agar membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada orang tua, saudara, dan teman-teman di lingkungan masing-masing.
“Kalau kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa, kalian bisa membantu mengingatkan teman, orang tua dan keluarga. Kalian adalah Pasukan Siaga Gempa,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa anak-anak juga dapat mengambil bagian dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah dapat diteruskan ke lingkungan keluarga sehingga semakin banyak orang memahami langkah-langkah dasar penyelamatan diri.


Subscribe to my channel










